Apa itu Makam Raja Reubah?
Makam Raja Reubah adalah makam yang berlokasi di Gampong Lam Lagang, tidak terlalu jauh dari Makam Raja Raden dan Makam Raja Jalil. Makam ini merupakan makam dari seorang Raja muda asal Malaysia, dimana ia meninggal pada abad 16 Masehi, pada di masa Kesultanan Aceh.
 |
| Komplek Makam Raja Reubah tampak depan |
Sejarah Makam Raja Reubah
 |
Tulisan yang ada di pratasti didepan
Komplek Makam Raja Reubah |
Sebelum ia dikenal dengan sebutan Raja Reubah, Ia adalah perantau dari sebrang selat Malaka, Malaysia. Ia sangat bersikeras ingin bertemu dengan Sultan Iskandar Muda(1607-1636). Dimana singkat ceita ia bertemu dengan Sultan Iskandar Muda dan akhirnya beliau dinikahkan dengan saudara sepupu Sultan dan dipercayai menguasai sebagian wilayah Aceh. Hal ini dijelaskan disebuah pratasti yang terdapat tepat didepan komplek makam Raja Reubah.
Raja Reubah bukan merupakan nama asli dari nama raja dari Malaysia tersebut, setelah di cari tahu ternyata nama beliau adalah Sulthan Abdullah Ma’ayat Syah, Raja muda dari Johor, Malaysia. Nama Raja Reubah disematkan pada raja tersebut dikarenakan cerita sejarah menyatakan bahwa Raja tersebut pernah pergi ke daerah Mata Ie dengan menunggangi gajah, namun pada saat perjalanan pulang dari Mata Ie, beliau terjatuh dari gajahnya tepat di jalan di depan beliau di makamkan sekarang, dan beliau akhirnya diangkat dengan menggunakan belalai gajah yang di tungganginya menuju sebuah tempat yang sedikit bergunduk (tempat beliau di makamkan sekarang). Akibat jatuh dan meninggal dunia maka banyak masyarakat saat itu menyebutnya Raja Reubah, yang dalam bahasa Aceh Reubah berarti jatuh.
Makam Raja Reubah ini diperkirakan mulai di rawat oleh pihak cagar budaya sejak tahun 1980an, dimana hal ini berdasarkan keterangan dari sang penjaga makam yang telah tinggal di dekat makam sejak tahun 1958. pada saat sebelum diperiharanya makam ini oleh pihak cagar budaya, dikatakan bahwa lokasi disekitar makam sangatlah ribun akan pepohonan dan sangat tidak terawat. barulah ketika tahun 1980an, pihak cagar budaya melakukan pembenahan pada daerah makam tersebut.
Ketika gempa dan tsunami 26 Desember 2004 silam melanda Aceh, air dari tsunami tersebut tidaklah sampai ke daerah atas makam, hanya menggenang di jalan utama saja, sehingga lokasi makam Raja Reubah saat itu juga digunakan sebagai lokasi pengungsian untuk menyelamatkan diri dari air tsunami yang datang oleh warga sekitar. beberapa dari pengungsi tersebut bahkan ada yang menginap hingga bermalam-malam di lokasi makam karena tingginya yang membuat masyarakat saat itu aman apabila terjadi tsunami susulan.
 |
| Pemandangan dari atas Komplek Makam Raja Reubah, terlihat atap rumah yang sejajar dengan tanah di komplek makam. |
Lokasi Makam Raja Reubah
Makam Raja Reubah beralamat di Jl. Residen Danubroto, Lam Lagang, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Lokasi makam ini secara rincinya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
 |
| Peta Lokasi Makam Raja Reubah. |
Makam Raja Reubah tidak sendiri dimakamkan daerah tersebut, akan tetapi ada beberapa sanak keluarganya yang ikut dimakamkan bersamanya di Komplek Makam Raja Reubah ini. Didalam komplek makam ini terdapat 15 makam lainnya dengan ukuran dan jenis nisan yang bervariasi. Saat ini kondisi di komplek makam tersebut sudah cukup bersih dan terawat. Komplek Makam Raja Reubah berdiri di atas tanah wakaf dan di juru peliharai oleh Ibu Cut Kasmawati (60 Tahun).
 |
| Kumpulan Makam di Komplek Makam Raja Reubah. |
 |
| Proses pengambilan informasi berupa wawancara kepada juru makam, Ibu Cut Kasmawati. |
Saat ini yang masih menjadi kendala utama bagi komplek makam ini ialah tidak adanya jalur masuk yang jelas dan tidak adanya penunjuk jalan untuk mengetahui lokasi komplek makam. Apabila anda hendak mengunjunginya, makan berhentilah di depan SDIT Quantum, lalu lihatlah ke arah selatan, dibalik sebuah kios ada sebuah gundukan tanah menyerupai bukit setinggi ± 5 meter (setinggi atap rumah didekatnya) dan telah dipagar diatasnya, maka itulah Komplek Makam Raja Reubah.
 |
| Lorong kecil menuju Komplek Makam Raja Reubah di antara rumah dan kios |
Saat ini kondisi komplek makam tersebut sedang mengalami kerusakan alami yang disebabkan adanya beberapa pohon besar yang tumbuh di tenggah-tenggah makam dan di depan pagar komplek makam tersebut, sehinga ada beberapa nisan, yang rusak dan bergeser posisinya. namun ada juga beberapa batu nisan yang telah terpatahkan, banyak faktor yang bisa menjadi kemungkinan patahnya batu nisan tersebut.
 |
| Pohon besar yang tumbuh di tengah Komplek Makam Raja Reubah. |
 |
| Kondisi beberapa Batu Nisan yang tertutupi oleh pohon besar yang ada di tengah makam. |
 |
| Kenampakan beberapa batu nisan yang telah rubuh dan terpatahkan. |
Ragam Batu Nisan Di Komplek Makam Raja Reubah
Keberagaman bentuk batu nisan Aceh telah dikemukakan oleh beberapa para Ahli, yang paling terkenal diantaranya yaitu Ambary (1988) dan Othman (1988). Batu nisan Aceh menurut Ambary dibagi dalam tiga bentuk yang pertama merupakan “bucranc” berbentuk seperti persegi panjang dengan hiasan seperti tanduk kepala kerbau yang telah diberi gaya. Bentuk yang kedua ialah persegi panjang, menurut Ambary menyerupai sebuah miatur candi. Batu nisan ini umumnya digunakan antara abad ke- 15-16 M. Bentuk yang ketiga yaitu silinder atau bundar, bentuk ini mengambil pola akar yang telah ada dalam seni bangunan pra Islam, yaitu bentuk lingga semasa Hindu dan bentuk menhir semasa megalitik. Kemudian bentuk ini mengalami perkembangan dan variasi, baik pada bagian kaki, badan dan kepala, maupun puncak pada batu nisan.
Batu nisan kuno yang ditemukan dan diintendifikasi oleh Ambary berjumlah 12 buah, terhadap bentuk-bentuk tersebut Othman juga menemukan beberapa jenis lain yang tampak tidak jauh berbeda dengan bentuk yang lebih diperinci lagi. Secara lengkap Othman menyebutkan ada 14 buah jenis batu nisan yang telah dirincikan, bentuk-bentuk tersebut terdiri dari slab bahu berukir maupun polos tanpa ukiran, slab bersayap, pillar tanpa sayap, pilar bersayap, dan tiang.
 |
| Ragam Batu Nisan Menurut Ambary (kiri) dan Othman (kanan). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah yang telah terlapukan,, berasal dari abad 16 (Ambary) atau abad 16-17 (Othman). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 18-19 (Ambary) atau abad 17-18 (Othman). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 15 (Othmann). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 13-15 (Ambary) atau abad 15 (Othman). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 16-17 (Ambary) atau abad 15 (Othman). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 16 (Othman). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 13-15 (Ambary) atau abad 15 (Othman) |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah, berasal dari abad 13-15 (Ambary) atau abad 15 (Othman). |
 |
| Salah satu Batu Nisan di Makam Raja Reubah yang telah terpatahkan, dari ukiran yang ada di bagian bawahnya sama dengan ukiran yang ada dengan batu nisan yang berasal dari abad 13-15 (Ambary) atau abad 15 (Othman). |
Di Makam Raja Reubah ini juga terdapat batu nisan dengan ukuran bervariasi, ada yang besar dengan tinggi hingga ±160 cm, dan ada yang telah patah hingga kecil dengan sisa ketinggian ±38 cm.
 |
| Batu Nisan dengan ukuran besar, Penulis sebagai pebanding |
 |
| Batu Nisan abad 13-15 (Ambary) / abad 15 (Othman) berukuran kecil, dengan catatan (15cm) sebagai pebanding |
Bahan Baku Pembuatan Nisan
Batu nisan yang berada di Komplek Makam Raja Reubah ini diperkirakan berjenis batu Andesit, yaitu salah satu dari nama batuan beku ekstrusif yang tersusun atas butiran mineral yang halus (fine-grained). Batuan beku ekstrusif ini biasanya ringan dan berwrna abu-abu gelap. Pada kondisi cuaca tertentu, Andesit sering terlihat berwarna coklat sehingga untuk mengidentifikasinya perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih detail. Andesit kaya akan mineral plagioklas feldspar dan biasanya mengandung biotit, piroksen, atau amphibole. Dari ciri-ciri batuan andesit tersebut, dapat diperkirakan bahwa daerah yang menjadi lokasi bahan bakunya merupakan daerah di seputaran Gunung Seulawah, dimana disekitaran gunung tersebut banyak terdapat bongkahan-bongkahan batuan andesit berukuran besar. Bongkahan-bongkahan batu tersebut kemudian di potong menjadi ukuran yang lebih kecil, dan telah disesuaikan dengan keinginan dibawa dan dikerjakan di suatu tempat. Tidak diketahui dimana lokasi 'bengkel' yang mengerjakan pembuatan nisan-nisan tersebut. Walau demikian, ada beberapa batu nisan yang diragukan juga sebagai batu andesit dimakan ini,dikarekan telah terjadinya proses pelapukan dan erosi di batu nisan tersebut.
 |
| Bongkahan-bongkahan batuan andesit di daerah Aceh Besar, |
Komplek Makam Raja Reubah Secara Geologi
Komplek Makam Raja Reubah terletak di koordinat 5°32'4.38"U dan 95°18'42.48"T. komplek makam ini secara peta geologi berdiri diatas lapisan aluvial. Letak makam yang memiliki bentuk gundukan tanah seperti bukit setinggi ± 5 meter tersebut membuat wilayah makam ini akan aman apabila terjadi banjir.
Bahan dasar bagunan Makam Raja Reubah merupakan batuan andesit, dimana batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif yang tersusun atas butiran mineral yang halus. Batuan beku ektrusif tesebut biasanya lebih ringan dari batuan beku bertipe basaltik, dan berwarna abu-abu gelap. Andesit kaya akan mineral plagioklas feldspar dan biasanya mengandung biotit, piroksen, atau amphibole. Di daerah terdekatnya, batuan andesit terdapat di daerah Lam Teubah hingga Gunung Seulawah
Namun, ada beberapa nisan yang telah hacur karena pelapukan, terlihat memiliki jenis batuannya berupa batu pasir, hal ini semaki diperkuat dengan perbedaan densitas dari nisan tersebut dengan nisan yang menggunakan batuan beku andesit. Batu pasir merupakan batuan sedimen yang terdiri dari mineral - mineral berukuran pasir ataupun butiran – butiran batuan/pasir itu sendiri yang telah mengalami sementasi, akumulasi, dan kompaksi. Batuan pasir sebagai sumber dasar batuannya mungkin saja dapat di peroleh di daerah Lhoknga. Sedangkan untuk tanah yang terdapat disekitar makam merupakan tanah lempung dengan butiran yang halus.
Apabila citra satelit dari makam tersebut berserta lokasi sekitarnya dibandingkan dengan citra satelit pada bulan Juni 2004 (seperti gabar dibawah) akan terlihat bahwa lokasi titik-titik tersebut ternyata telah mengalami pergeseran. Hal tersebut mungkin saja terjadi, dimana hal itu bisa saja dikarenakan adanya pergerakan lempeng yang terjadi secara perlahan setiap tahunnya, ditambah dengan gempa-gempa yang belanda Aceh sejak Agustus 2004 hingga 2018 saat ini, dimana diantaranya terdapat beberapa gempa besar dan banyak gempa kecil, sehingga membuat posisi pin pada saat tahun 2018 dengan bulan Juni 2004 (sebelum tsunami) mengalami pergeseran.
 |
| Citra satelit lokasi Komplek Makam Raja Reubah Tahun 2018 |
 |
| Citra Satelit Komplek Makam Raja Reubah bulan Juni 2004 |
Referensi:
- Wawancara langsung dengan juru makam
- Othman M. Yatim. 1988. "Batu Aceh: Early Islamic Gravestones In Peninsular Malaysia". Museum Association of Malaysia.
Penulis: Baginda Ilham ALfridsyah (1504109010018), Mahasiswa Teknik Geologi Unsyiah, Untuk Mata Kuliah Geoarkeologi
Komentar
Posting Komentar